Today I had a really beautiful morning.
Mungkin untuk orang lain hal ini tidak ada
istimewa-istimewanya, tapi aku tidak akan membohongi diri sendiri dengan
mengatakan aku tidak menganggap momen tadi indah. Rasanya lebih baik macet dan
kita tak kunjung sampai di tempat tujuan agar aku bisa lebih lama menikmati
waktu, berdua denganmu di atas motormu. Berharap akan ada lain kali tapi aku
sendiri tidak bisa memastikan kapan lagi bisa begini. Dan aku hanya bisa
menikmati detik-detik yang rasanya berlalu sangat cepat itu dalam diam di depan
punggungmu. Diam-diam memandangimu yang tak pernah sedekat ini sebelumnya.
Ingin mengajakmu bicara tapi tiba-tiba aku tidak tahu lagi apa arti kata-kata.
Kamu yang selama ini hanya diam dan menanggapiku seadanya. Sungguh rasa
penasaran sangat menggelitikku. Apa kamu juga begitu?
Aku tak bisa lama-lama memandang punggungmu
kalau tidak memeluknya. Aku tak bisa lama-lama berdiam diri seperti ini kalau
tidak mengawalinya dengan mengatakan, “Aku sungguh menyayangimu” di telingamu.
Detik-detik yang kini ku kenang, ku lewati dengan mengingat setiap kata yang
kamu ucapkan lewat sms ataupun saat kita chatting. Aku sangat menyadari
perubahan sikapmu akhir-akhir ini. Perubahanmu yang membuatku mau tak mau jadi
berharap. Aku sendiri tidak benar-benar menyadari rasa yang diam-diam
menyelinap ini sampai saat aku melihat wajahmu yang memerah karena malu padaku
di hari itu.
Dan ternyata aku sungguh menyukaimu. Aku
sungguh menginginkan kamu untukku. Aku berharap ini bukan lagi sekedar
pencarian pelampiasanku setelah dia mengecewakanku dengan kepergiannya. Aku
sendiri penasaran dengan apa yang kamu pikirkan setelah mengetahui perasaanku
padamu padahal temanmu itu sudah membuat kenangan sendiri dihatiku. Aku mohon
jangan anggap aku ini tidak serius karenanya. Walau sungguh aku sudah
mengagumimu sebelum dia datang. Tidakkah kau menyadarinya?
Sampai sekarang aku masih takut untuk
berharap. Aku selalu takut berharap. Dan terkadang aku benci terus berharap dan
tidak bisa berhenti. Tapi sungguh aku ingin kamu berbeda.
Aku suka kamu. Walaupun kamu pendiam dan
pemalu. Walaupun rumahmu begitu jauh. Walaupun mungkin kamu sulit menyediakan
waktu untukku. Walaupun sepetinya bahasa kita berbeda. Walaupun asal kita tidak
sama.
Aku suka kamu. Wajahmu yang memerah. Suaramu
yang membuatku menggila. Matamu yang menatap malu. Terlebih lagi petikan
gitarmu yang diselipi suara indah dari mulutmu.
Dan sekarang aku sudah merindukanmu lagi.
Hanya selang hitungan detik, menit dan jam, aku sudah mengingikanmu lagi.
Sungguh saat kamu berkata kamu tak ingin mengulangi kesalahan yang sama, sudut
hatiku berteriak bahwa aku bukan sebuah kesalahan. Sungguh saat kamu berkata
kamu butuh sayap, sudut hatiku berteriak lebih keras lagi bahwa aku bisa
menjadi apa yang kamu butuhkan. Aku nyaris tidak peduli dengan tanggapan buruk
orang-orang tentang perasaanku ini yang ku harap menjadi perasaan kita.