3/30/12

Aku melepas aku


Malam ini aku melepas topeng.
Membiarkan rasa yang selalu ku sembunyikan menyeruak.
Rasa muak dan rasa tidak peduli.
Untuk sesaat ini saja aku tidak ingin memikirkan apa-apa.
Aku tidak pedui pada perasaan dan tanggapan orang tentang aku khusus untuk detik ini.
Untuk detik-detik ini aku tidak memilik perasaan apa-apa pada siapapun, khusus sesaat ini.
Sekarang aku lepaskan semua rasa yang sudah lama merontak ingin bebas.
Aku melepas aku.
Kubiarkan aku memaki apapun yang terpikir begitu saja di benakku.
Kubiarkan aku meneriaki orang-orang yang tidak akan mendengarkan.
Kubiarkan aku menjerit dan menguras butir deimi butir genangan air di sudut mata.

Aku muak.

Menit-menit ini akan ku lewati dengan mengulang dua kata itu terus menerus.
Ku biarkan aku menyalakan orang lain akan kesalahan mereka dan kesalahanku.
Khusus detik ini saja aku ingin mengganti topengku.
Aku melepas aku.

3/27/12

Buta arah


Saat ini aku sendiri bahkan tidak bisa mengerti
Tidak bisa memahami perasaanku sendiri
Tidak tahu harus ku arahkan rasa yang meluap, merindukan sesuatu yang tidak seharusnya dirindukan
Tak bisa lagi melihat kekurangan mereka sebagai kelebihan membuatku hampir gila
Membuatku buta arah untuk memilih yang seharusnya dipilih
Tapi rasaku ini rapuh
Aku tidak akan rela jika rasa ini berserakan menjadi kepingan-kepingan lagi.
Butuh waktu yang cukup lama untuk menyatukannya kembali
Rasaku ini memang rentan
Karenanya ia mudah menyayangi
Karenanya ia mudah percaya
Dan karenanya ia mudah hancur
Karenanya ia sok tegar dan mengharuskan diri untuk terlihat memang tegar
Untuk terlihat tidak berharap
Dan untuk terlihat tidak tersiksa karena kesepian.

3/25/12

The memories


Setiap lagu adalah kenangan
Setiap tempat yang kita kunjungi juga akan menjadi kenangan nantinya
Masa lalu itu kenangan , maka masa kini juga kenangan
Bahkan bintang, bulan dan hujan pun kenangan
Kenangan itu bentuk kerinduan
Tapi bisa juga menjadi traumatik yang panjang
Malam ini
Lagu-lagu itu terputar kembali
Membuat lilitan kerinduan ini ingin meledak
Malam ini
Jejak-jejak langkah kita menuntunku kembali kesana
Ke bawah langit dimana dua sosok manusia pernah melewati detik-detik indah di tanah itu
Malam ini
Tidak ada mendung yang menghalang-halangi bintang
Membuatku ingin menghambur ke masa dimana kau akan datang hanya untuk menemaniku melihat bintang
Malam ini
Masa lalu itu menyeruak
Memberontak
Membuka dengan kasar gembok yang dipasang dengan paksa
Menantang masa kini untuk bertaruh siapa yang akan menang dan kapan aku menyerah
Malam ini
Hujan pun enggan membasahi daratan
Dan bulan pun mengikutinya pergi
Menghilang entah kemana
Karenanya bekas luka yang tak kunjung hilang pun kembali terasa menyayat
Luka permanen dari masa lalu
Malam ini
Aku benci masa lalu dan kenangannya.

3/24/12

Musisi


Aku suka musisi
Aku suka tangan yang menari-nari lincah di atas tuts-tuts hitam putih
Aku suka musisi
Aku suka jemari-jemari yang mendentingkan nada indah yang rumit dari petikan senar emas
Aku suka musisi
Aku suka memandangi mata seorang musisi yang tertutup untuk menghayati isi kata bermelodi yang ia keluarkan
Aku suka musisi
Aku suka mendengar nada melengking yang tercipta dari paru-paru sang akordeon
Aku suka musisi
Aku suka suara lembut dari gesekan teratur senar-senar mungil
Aku suka musisi
Aku suka gebukan menantang yang kadang melunak tetapi lebih sering memberontak
Aku suka musisi
Apalagi kalau itu kamu.

3/6/12

Bulan yang tersesat


Aku seperti bulan tersesat.

Planetku hancur dalam skenario film tentang kepedihan hati yang menimbulkan perubahan besar,

yang tetap walau bagaimanapun,

Bergerak dalam orbitnya yang kecil dan sempit.

Mengitari ruang angkasa yang kini kosong melompong,

Mengabaikan hukum gravitasi.

- Stephanie Meyer