“Kota Jogja itu… romantis.” Tiap denger kalimat itu entah
kenapa yang muncul di benakku itu selalu kamu. Betapapun itu udah mencapai hitungan
tahun, memori itu tak berhenti berputar.
Aku masih ingat semuanya, setiap detilnya. Sore itu
tiba-tiba kamu telfon, dengan santainya kamu ajak aku ikut kamu pergi keluar
malam itu. “Cuma makan-makan kok, sama anak-anak yang lain juga.” Katamu dengan
logat yang sangat ku rindukan sekarang.
Kamu bermaksud menghiburku. Aku bisa lihat itu. Kamu tahu
aku nggak pernah keluar rumah. Kamu tahu bahkan dihari-hari yang harusnya
istimewa, hariku sama sekali tidak. Aku mengalami sesuatu yang disebut monoton.
Aku berusaha ngejelasin aku nggak punya uang dan nggak ada
kendaraan, dan kamu langsung bilang kalau soal itu serahin aja ke kamu, yang
penting aku dateng kesana, kamu bahkan mau ngizinin ke orang-orang dirumah.
Nggak banyak cowok yang aku kenal ngelakuin itu. Maka seketika itu juga aku
mengiyakan, excited.
Kamu menjemputku dan memberiku senyum itu. Damn, I miss that
smile. Waktu itu bintang belum muncul, apalagi bulan. Langit mendung. Kita berdua terlambat datang, tapi anak-anak yang lain
belum juga ada yang makan, “Kita nungguin kalian, nggak enak kalau makan
duluan.” Kata seorang dari sekumpulan cowok yang aku kenal dekat itu. Aku
satu-satunya perempuan di meja itu, tapi nggak ada rasa canggung, yang ada
malah perasaan excited. I just love this atmosfer much more than when I’m with
the girls.
“Kamu mau makan apa? Tinggal ambil aja nih, kasihan kamu
pasti udah laper kan.” Katamu memandangku. Aku bingung, jadi malah ku tolak.
Lalu dengan sigap kamu menyiapkan semuanya, “Mau yang ini nggak? Apa mau yang
ini?” tanyamu cepat melihat responku yang malah melambat. “Kamu kan belum pesen
minum, nih minum punyaku aja biar aku yang pesen lagi, belum aku minum kok.
Kamu pasti haus kan.” katamu lagi. Memperhatikan hal-hal kecil yang mendetail
seperti itu memang kebiasaanmu. And I think that’s what every girl want,
include me.
Seperti saat kita keluar dari tempat makan itu, langit mulai
menjatuhkan tetesan air rintik-rintik. Dinginnya menembus cardigan-ku. Aku bahkan belum sempat memandangimu lagi saat kamu
melepas jaketmu dan memakaikannya ke punggungku dari depan wajahku.
“Nggak usah protes,
kamu tanggung jawabku karna aku yang ngajak kamu pergi, jangan sampai gara-gara
kamu pergi sama aku kamu jadi sakit.”
Banyaknya memori dalam satu malam itu nggak pernah bisa aku
kunci. Berputar setiap kali aku ngeliat kamu. Rasanya nggak enak, pingin banget
ngungkapin ke kamu, tapi aku bahkan nggak paham apa yang harus aku ungkapin ke
kamu.
I realized that I’ve fallen for you. I was. Yeah I think.
No comments:
Post a Comment