5/3/13

I was


“Kota Jogja itu… romantis.” Tiap denger kalimat itu entah kenapa yang muncul di benakku itu selalu kamu. Betapapun itu udah mencapai hitungan tahun, memori itu tak berhenti berputar.
Aku masih ingat semuanya, setiap detilnya. Sore itu tiba-tiba kamu telfon, dengan santainya kamu ajak aku ikut kamu pergi keluar malam itu. “Cuma makan-makan kok, sama anak-anak yang lain juga.” Katamu dengan logat yang sangat ku rindukan sekarang.
Kamu bermaksud menghiburku. Aku bisa lihat itu. Kamu tahu aku nggak pernah keluar rumah. Kamu tahu bahkan dihari-hari yang harusnya istimewa, hariku sama sekali tidak. Aku mengalami sesuatu yang disebut monoton.
Aku berusaha ngejelasin aku nggak punya uang dan nggak ada kendaraan, dan kamu langsung bilang kalau soal itu serahin aja ke kamu, yang penting aku dateng kesana, kamu bahkan mau ngizinin ke orang-orang dirumah. Nggak banyak cowok yang aku kenal ngelakuin itu. Maka seketika itu juga aku mengiyakan, excited.
Kamu menjemputku dan memberiku senyum itu. Damn, I miss that smile. Waktu itu bintang belum muncul, apalagi bulan. Langit mendung. Kita berdua terlambat datang, tapi anak-anak yang lain belum juga ada yang makan, “Kita nungguin kalian, nggak enak kalau makan duluan.” Kata seorang dari sekumpulan cowok yang aku kenal dekat itu. Aku satu-satunya perempuan di meja itu, tapi nggak ada rasa canggung, yang ada malah perasaan excited. I just love this atmosfer much more than when I’m with the girls.
“Kamu mau makan apa? Tinggal ambil aja nih, kasihan kamu pasti udah laper kan.” Katamu memandangku. Aku bingung, jadi malah ku tolak. Lalu dengan sigap kamu menyiapkan semuanya, “Mau yang ini nggak? Apa mau yang ini?” tanyamu cepat melihat responku yang malah melambat. “Kamu kan belum pesen minum, nih minum punyaku aja biar aku yang pesen lagi, belum aku minum kok. Kamu pasti haus kan.” katamu lagi. Memperhatikan hal-hal kecil yang mendetail seperti itu memang kebiasaanmu. And I think that’s what every girl want, include me.
Seperti saat kita keluar dari tempat makan itu, langit mulai menjatuhkan tetesan air rintik-rintik. Dinginnya menembus cardigan-ku. Aku bahkan belum sempat memandangimu lagi saat kamu melepas jaketmu dan memakaikannya ke punggungku dari depan wajahku.
 “Nggak usah protes, kamu tanggung jawabku karna aku yang ngajak kamu pergi, jangan sampai gara-gara kamu pergi sama aku kamu jadi sakit.”
Banyaknya memori dalam satu malam itu nggak pernah bisa aku kunci. Berputar setiap kali aku ngeliat kamu. Rasanya nggak enak, pingin banget ngungkapin ke kamu, tapi aku bahkan nggak paham apa yang harus aku ungkapin ke kamu.
I realized that I’ve fallen for you. I was. Yeah I think.

No comments:

Post a Comment